"Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku,
perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku."
JANGAN GUNA GOOGLECHROME JIKA ADA GANGGUAN MALWARE


IKLAN Hubungi: gigitankerengga@gmail.com


IKLAN TEKS

IKLAN TEKS Cuma RM10 Sahaja Hubungi: gigitankerengga@gmail.com

“Agama macam apa ini? Masuk potong bawah. Keluar potong atas.”

BAGAIMANAKAH jika dakwah dilaksanakan tanpa fiqih dakwah?

Ustasz Zaitung Rasming, -demikiang pelafalang nama beliau menurut sebagiang kawang dari Sulawesi-, punya cerita.

“Seorang da’i di negeri antah berantah,” demikian tuturnya, “Berhasil membawakan hidayah untuk objek dakwahnya. Masuk islamlah lelaki itu dengan amat bersemangat. Kemudian berkatalah sang da’i kepadanya:

“Karena sekarang Anda sudah menjadi muslim, mari sebentar kita pergi ke dokter bedah!”

“Hah, untuk apa kita ke dokter bedah?” tanya si muallaf.

“Sebagai seorang muslim, itunya harus dipotong.”

“Itu apanya?”

“Itu yang bawah,” kata sang da’i sambil memberi isyarat pada kemaluannya.

“Hah?” seru si muallaf terpekik. “Ah, saya tidak mau itu saya dipotong.”

“Agama kita mengharuskan ini.”

“Kalau begitu saya tidak jadi masuk agama Anda. Apa pula pakai potong yang bawah segala. Saya batalkan niat saya semula. Saya keluar saja dari agama Anda ini.”

“Kalau Anda keluar,” ujar si da’i dengan wajah prihatin, “Maka yang harus dipotong adalah ini, karena Anda murtad.” Da’i kita ini memberi isyarat pada lehernya.

“Gila!”, teriak si muallaf. “Agama macam apa ini? Masuk potong bawah. Keluar potong atas.”

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Hafizhahullahu Ta’ala, barangkali tidak berniat bercanda ketika menyampaikan kisah ini. Maka dari kepemimpinan beliau di Wahdah Islamiyah yang baru saja dikukuhkan lagi dalam Muktamar III, kita menyaksikan dakwah yang tertata dengan baik, penampilan yang asyik berterima, prioritas yang tersusun rapi, sikap santun yang teguh kukuh, dan senyum yang selalu terkembang.

Tahniah kepada beliau dan Wahdah dari kami, para penulis Pro-U Media dalam jaulah silatil-arham kemarin. Abaikan salam 4 jarinya, karena tafsir Ustadz Zaitun dengan Ustadz Fanni Rahman berbeda. Yang satu mengartikan tolak pemimpin kufur korup, yang satu bercita soal jumlah teman hidup. []
-islampos

Tiada ulasan: