"Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku,
perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku."

Barat Disebut Mau Bunuh Zelensky

Tommy Patrio Sorong, CNBC Indonesia
Presiden Ukraina Volodomyr Zelensky bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Kepresidenan Elysee pada 14 Mei 2023 di Paris, Prancis. (Christian Liewig - Corbis/Corbis via Getty Images)
Presiden Ukraine Volodomyr Zelensky bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Presiden Elysee pada 14 Mei 2023 di Paris, Perancis. (Christian Liewig - Corbis/Corbis melalui Getty Images)
Gambar: Presiden Ukraine Volodomyr Zelensky bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Presiden Elysee pada 14 Mei 2023 di Paris, Perancis. (Corbis melalui Getty Images/Christian Liewig - Corbis)
Jakarta, CNBC Indonesia - Negara Barat dikatakan mempunyai kebarangkalian tinggi untuk membunuh Presiden Ukraine Volodymyr Zelensky. Ini berlaku walaupun pasukan penaung Amerika Syarikat (AS) terus membantu Kyiv dalam peperangannya dengan Rusia.

kenapa?

Rupa-rupanya ini disampaikan oleh bekas Presiden Rusia yang juga Timbalan Pengerusi Majlis Keselamatan, Dmitry Medvedev. Beliau berkata Ukraine terpaksa melancarkan serangan balas yang sangat dibanggakan untuk mewajarkan penghantaran senjata dan wang dari Barat.

Walau bagaimanapun, jika Barat tidak berpuas hati dengan serangan balas itu, kekecewaan Barat terhadap kerajaan Ukraine boleh berakhir dengan merugikan pegawai berpangkat tinggi. Bukan sahaja kerja mereka, tegasnya, malah nyawa mereka.

“Rejim Kyiv tidak mempunyai pilihan,” tegasnya dalam akaun Telegram rasmi yang dipetik Russia Today, Jumaat (9/6/2023).

"Mereka perlu menyerang. Mereka perlu mewajarkan wang dan senjata yang mereka terima. Kekecewaan pemeriksa (Kyiv) mungkin telah mengorbankan Zelensky dan rakan-rakannya bukan sahaja jawatan mereka, tetapi juga nyawa mereka," katanya.

Medvedev menambahkan bahwa saat ini Zelensky, yang disebutnya sebagai 'geng kokain', sangat mudah untuk digeser. Menurutnya, hanya butuh beberapa laporan dari agen AS untuk membuat memo yang berisi kegagalan Zelensky sehingga dengan mudah terdepak dari tahtanya.

"Mereka akan memberikan perintah kepada beberapa orang rendahan radikal untuk menyingkirkan pecandu narkoba (Zelensky) karena pengkhianatan terhadap Ukraina dan kasus Bandera, dan kemudian menggantungnya di kakinya bersama dengan antek-anteknya," tambahnya.

"Oleh karena itu, rezim Kyiv hanya memiliki satu jalan keluar, untuk mencapai akhir, mengirim ribuan orang yang dimobilisasi ke kematian mereka. Rusia tidak boleh meremehkan musuh dan melancarkan serangannya sendiri untuk sepenuhnya menggulingkan rezim Nazi Kyiv."

Bulan lalu, Medvedev, mengklaim bahwa Ukraina tidak memiliki masa depan dalam bentuknya saat ini dan keruntuhan kenegaraannya tidak dapat dihindari. Dia menekankan bahwa 'pemerintahan Nazi di Kyiv' harus dihancurkan untuk mencegah konflik yang sedang berlangsung berlarut-larut.

Serupa, hal ini juga disampaikan Kepala Dewan Keamanan Rusia Nikolay Patrushev. Dalam pernyataannya, Patrushev menegaskan kembali tidak ada perang antara rakyat Rusia dan Ukraina.

Menurutnya, Rusia hanya ingin menumbangkan rezim pemerintah Ukraina yang disebutnya sebagai rezim 'Neo-Nazi' bentukan Inggris dan Amerika Serikat (AS). Patrushev mencatat rezim tersebut digunakan AS karena tidak ingin Rusia menjadi kuat dan berusaha untuk memotong-motongnya.

Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu. Presiden Rusia Vladimir Putin beralasan bahwa serangan didasarkan pada niatan Kyiv untuk bergabung dengan NATO, yang menjadi merupakan salah satu ancaman bagi negaranya.

Selain itu, Putin berniat untuk mengambil wilayah Donetsk dan Luhansk yang sebelumnya dikendalikan Ukraina. Ini untuk membebaskan masyarakat etnis Rusia yang disebutnya mengalami persekusi dari kelompok ultra nasionalis Ukraina.

Menurut PBB, Perang Rusia di Ukraina telah membuat 8.000 lebih nyawa warga sipil hilang. Namun organisasi itu yakin angka sebenarnya lebih besar di lapangan.

Selasa dilaporkan pula bagaimana bendungan raksasa meledak di Kakhovka, Ukraina bagian selatan, yang kini diduduki Rusia. Kedua negara sesama mantan Uni Soviet tersebut saling tuduh sebagai biang kerok bencana yang menyebabkan ancaman ekologis, termasuk banjir, gagal panen, hingga nuklir itu.

Tiada ulasan: